yunikepuspita.com
Esai · Refleksi

16 Tab Terbuka,
Nol yang Selesai

Aku kira masalahnya terlalu banyak pilihan. Sembilan bulan dan satu tenggat disertasi kemudian, aku sadar “macet” itu bukan satu hal. Ada empat. Dan cuma satu kebiasaan yang menyelamatkanku.

23.47. Di meja makan, laptopku masih menyala dan aku menghitung tab di peramban: enam belas. Artikel panjang yang kusimpan tiga minggu lalu. Resep yang tak akan kumasak. Satu percakapan dengan AI soal apakah aku harus berhenti S3 atau menuntaskannya. Tiket pesawat ke kota yang tak kutuju. Dan di pojok, draf Bab IV yang kursornya belum bergerak sejak subuh.

Aku berpindah dari satu tab ke tab lain. Tiap kali berjanji akan kembali. Tak pernah kembali. Aku kenal jenis orang sepertiku: yang yakin akan menuntaskan sesuatu yang besar, lalu membuktikan sebaliknya hampir tiap minggu.

Yang membuatku malu bukan kemalasan. Yang membuatku malu adalah polanya. Tiap beberapa minggu, ide baru datang, dan empat puluh delapan jam pertama selalu terasa sama: deras, terang, seolah versi terbaik diriku akhirnya tiba. Aku buka halaman Notion baru. Aku tulis satu skill baru. Aku bayangkan SAE PISAN sudah jalan, SIARIP sudah jadi arsip sebesar Scribd, disertasi sudah dijilid rapi. Dan bermimpi terasa persis seperti bekerja. Di situ letak tipuannya. Empat puluh delapan jam itu aku memang produktif: memproduksi dopamin, bukan halaman. Otak punya cara yang halus menukar bayangan kerja dengan kerja itu sendiri, dan aku nyaris tak pernah menagih selisihnya.

Lalu bagian sulitnya tiba. Duduk. Menulis draf untuk kesekian kali. Energi hari Senin habis sebelum Jumat, dan mimpinya mati. Aku tidak benar-benar berhenti, sih. Aku menggulir layar, menonton orang lain mengerjakan hal yang tadi kubilang akan kukerjakan. Bermimpi, mati, membusuk. Ulang. Tiap beberapa minggu, ide baru, busur yang sama.

Bertahun-tahun aku percaya nasihat standar: kamu cuma punya terlalu banyak pilihan, pokoknya mulai saja, disiplin kuncinya. Aku sudah baca semua, sudah kuikuti semua, dan tak satu pun benar-benar membereskannya. Bukan karena nasihatnya salah, tapi karena dua asumsinya keliru. Pertama, ia mengira aku tidak tahu cara memulai. Aku tahu. Kedua, ia mengira macet itu satu hal dengan satu obat.

Macet bukan satu hal. Aku menghitung empat. Dari luar mereka mirip. Pintu keluarnya berbeda-beda.

Pohon ara yang buahnya menghitam

Yang pertama, pohon ara. Sylvia Plath menulisnya di The Bell Jar (1963): seorang perempuan duduk di percabangan pohon, tiap dahan satu kemungkinan hidup — istri, penyair, editor di Eropa — dan karena memilih satu berarti melepas sisanya, ia diam saja sampai buah-buah itu menghitam dan jatuh satu per satu di kakinya.

Macet jenis ini nyata. Tapi jauh lebih jarang dari yang kita kira. Sering, yang kusebut “terlalu banyak pilihan” sebenarnya cuma soal sebagian buahnya tidak pernah nyata. Aku tidak benar-benar menginginkannya; aku cuma mengira aku seharusnya. Begitu hal itu kuakui, separuh dahan pohon itu rontok sendiri sebelum sempat kupanjat, dan ternyata tak ada yang hilang. Nasihat “pilih satu yang membuatmu bersemangat” dibuat untuk macet yang soalnya memang memilih. Padahal memilih, paling sering, bukan soalnya.

Kasur yang terlalu hangat

Yang kedua, kenyamanan. Ada novel Rusia abad ke-19, Oblomov (Goncharov, 1859), tentang bangsawan muda yang sepanjang ratusan halaman tak sanggup bangun dari ranjang. Bukan karena pilihannya terlalu banyak. Karena ranjangnya hangat, kamarnya tenang, hidupnya cukup-cukup saja. Ongkos untuk bergerak selalu tampak lebih mahal daripada ongkos untuk tinggal. Kritikus Dobrolyubov menamainya oblomovisme. Inilah jenis macet yang paling sering kukira pohon ara. Pintu keluarnya bukan memilih di antara opsi. Pintu keluarnya bangun dari ranjang, satu hal kecil saja.

“Saya lebih suka tidak.”

Yang ketiga, penolakan yang tenang. Dalam cerita Herman Melville, Bartleby si Juru Tulis (1853), seorang pegawai kantor pengacara di Wall Street suatu hari menjawab atasannya dengan kalimat yang mustahil dibantah: “Saya lebih suka tidak.” Ia tak meninggikan suara. Tak memberi alasan. Ia cuma tidak bergerak.

Versi macet ini paling sering kukira soal kemauan. Buku yang tiga tahun ingin kutulis. Percakapan yang enam bulan kutunda. Tapi kalau kamu bertahun-tahun tak mengerjakan hal yang sama, lewat tiap sistem yang pernah kaucoba, diamnya itu bukan kekosongan. Ia pesan. Mungkin yang kuinginkan bukan pekerjaannya, melainkan bayangan diriku yang sudah menyelesaikannya, dan bayangan tak pernah perlu menulis satu kata pun. Pintu keluarnya bukan motivasi; atasan di cerita itu sudah mencobanya sampai habis. Pintu keluarnya kejujuran.

Putaran yang tak mau berhenti

Yang keempat, untuk para pemikir-berlebih. Pagi saat sudah dua jam di depan meja dan kursor tak juga bergerak. Percakapan yang kuputar ulang di kepala sampai lupa apa yang sebenarnya dikatakan. Ada sirkuit di otak bernama default mode network (Raichle dkk., 2001), yang justru menyala saat kita sedang tidak mengerjakan apa-apa. Pada otak yang sehat ia menyala lalu padam, masuk lalu keluar, seperti ombak yang tahu kapan harus surut. Pada otak yang macet, ia lupa cara surut. Ia terus menyala lama setelah gelombang aslinya lewat, lama setelah aku lupa kenapa semuanya bermula.

Dan inilah yang lambat kupahami: aku tak bisa berpikir untuk keluar dari putaran, sebab berpikir itulah putarannya. Loop tak putus karena diajak bicara; ia putus karena ditinggalkan. Jalan kaki. Menelepon teman. Air dingin ke wajah, dingin yang menyentak tubuh kembali ke detik ini. Pintu keluarnya bukan pikiran yang lebih banyak. Justru yang lebih sedikit.

Keterampilan yang tak ada di daftar nasihat

Sembilan bulan terakhir mengajariku satu hal yang tidak tercantum di daftar mana pun. Keterampilan terbaik yang bisa kupunya bukan disiplin, bukan motivasi. Tapi kemampuan reset, cepat.

Percakapan canggung? Lewati. Hari yang buruk? Mulai bersih besok pagi. Lewat satu sesi menulis? Kerjakan besoknya, sudah. Hidup tidak membaik karena hal-hal buruk berhenti terjadi. Hidup membaik saat aku berhenti memberi hal-hal buruk itu waktu lebih dari yang pantas mereka terima.

Sering bukan masalahnya yang menahanku, melainkan berapa lama aku memutuskan untuk tinggal di dalamnya. Satu kemunduran kubiarkan beranak jadi gunung alasan. Satu penolakan kuangkat jadi vonis. Aku tak bisa mengatur apa yang datang padaku; aku bisa mengatur berapa lama kuberi ia kamar di kepalaku. Untuk seseorang yang tenggat masa studinya sedang berdetak, selisih itu adalah selisih antara selesai Desember dan tidak.

Aku tak bisa mengatur apa yang terjadi. Hanya berapa lama kubiarkan ia tinggal.

Jadi kalau kamu tanya aku macet jenis apa, jawabku: berbeda-beda, di waktu berbeda. Kadang dua sekaligus dalam satu sore. Saat di pohon ara, aku bertanya: pilihan ini benar-benar ada, atau cuma kukira aku harus menginginkannya? Saat di ranjang hangat, aku kerjakan satu hal kecil. Saat menolak diam-diam, aku coba jujur pada diri sendiri. Saat dalam putaran, aku berdiri dan keluar.

Mimpi berikutnya datang minggu ini. Ia akan terasa seperti yang itu — yang benar, yang akhirnya beda dari semua yang lalu. Ia bukan. Kecuali memang ada yang lain kali ini. Dan ada: sekarang aku tahu macet jenis apa yang sedang kualami, dan aku tahu di mana letak pintunya.

06.12. Bandung terang; langit seperti dicuci bersih semalam. Hari ini, tepat, usiaku empat puluh tiga. Empat puluh tiga kali matahari yang sama, dan pagi ini kalender menekan tombol reset-nya sendiri, tak menunggu aku merasa siap. Aku tutup lima belas tab. Kusisakan satu, Bab IV, dan kuletakkan jari di papan ketik. Cahaya jatuh di meja, hangat dan sabar. Kursornya bergerak.