Beberapa waktu lalu, seorang staf muda di kantor menyodorkan draf surat undangan kepada saya. Rapi. Ejaannya sempurna. Kalimatnya seimbang. Tapi ada sesuatu yang membuat saya berhenti. Saya bertanya, “Kenapa paragraf kedua ini ada?” Ia terdiam agak lama, lalu menjawab jujur: “Saya kurang tahu, Bu. Sudah begitu dari sananya.”
“Kenapa paragraf ini ada?”
“Saya kurang tahu, Bu. Sudah begitu dari sananya.”
Sudah begitu dari sananya. Kalimat itu menempel di kepala saya berhari-hari. Bukan karena stafnya malas — ia pekerja yang baik. Tapi karena untuk pertama kalinya saya melihat dengan jelas sebuah dokumen yang ada tanpa seorang pun pernah benar-benar memikirkannya. Dokumen itu lahir, tetapi tidak dikandung.
Kita sudah lama membuat perjanjian diam-diam dengan mesin. Biarkan AI mengurus tulisan rutin — surat, caption, notula, balasan email — supaya kepala kita bebas untuk pekerjaan yang lebih besar. Perjanjian itu terdengar masuk akal. Mungkin memang benar untuk tulisan fungsional. Tapi ada satu jenis menulis yang tidak bisa dititipkan: menulis di mana kita belum tahu apa yang kita pikirkan sampai kalimatnya selesai. Menulis bab disertasi. Menulis argumen. Menulis esai seperti ini. Di situ, menulis bukan cara menyampaikan pikiran. Menulis adalah pikirannya.
Apa yang terjadi pada otak kita kalau bagian itu pun kita serahkan?
01Otak Anda di Bawah ChatGPT
Sekelompok peneliti di MIT Media Lab mencoba menjawabnya secara harfiah. Mereka mengumpulkan 54 partisipan, membaginya menjadi tiga kelompok, dan meminta semuanya menulis esai. Kelompok pertama menulis dengan bantuan ChatGPT. Kelompok kedua boleh memakai mesin pencari. Kelompok ketiga tidak memakai apa pun — hanya kepalanya sendiri. Sepanjang proses, aktivitas otak mereka direkam dengan EEG.
Hasilnya tidak menyenangkan. Kelompok yang menulis dengan ChatGPT menunjukkan konektivitas otak paling lemah di antara ketiganya. Kelompok tanpa alat justru menunjukkan aktivitas saraf paling luas dan paling kuat, terutama di wilayah yang berkaitan dengan kreativitas, memori, dan pemikiran mendalam.
Tapi yang paling menusuk bukan grafik EEG-nya. Ketika para partisipan diminta mengutip satu kalimat saja dari esai yang baru saja mereka tulis, 83 persen anggota kelompok ChatGPT tidak sanggup melakukannya. Esainya ada. Mereka tidak punya hubungan apa pun dengannya.
Para peneliti menamai gejala ini cognitive debt — utang kognitif. Semakin sering kita menyerahkan pekerjaan berpikir kepada mesin, semakin lemah kemampuan otak melakukannya sendiri. Persis seperti otot yang berhenti dipakai. Utang itu tidak terasa saat diambil; ia menagih belakangan, diam-diam, di saat kita paling membutuhkan kepala kita bekerja.
Studi ini masih berstatus preprint — belum melewati telaah sejawat. Jumlah partisipannya hanya 54 orang, sebagian besar dewasa muda Amerika. Sebagai peneliti, saya tahu persis apa artinya: temuan ini preliminer, tidak boleh diperlakukan sebagai hukum. Tapi arah yang ditunjuknya cukup mengganggu untuk tidak diabaikan.
02Dan Kita Mulai Terdengar Sama
Persoalannya ternyata tidak berhenti di kepala satu orang. Ia menular ke kita semua, bersama-sama.
Peneliti di Cornell memberi dua kelompok — satu Amerika, satu India — sederet pertanyaan sederhana. Apa makanan favoritmu? Apa hari raya kesukaanmu? Sebagian menulis dibantu alat autocomplete bertenaga ChatGPT, sebagian menulis sendiri.
Tulisan partisipan India dan Amerika yang memakai AI menjadi makin mirip satu sama lain, bergeser mendekati norma Barat. Mereka yang memakai AI paling mungkin menjawab bahwa makanan favoritnya pizza dan hari raya kesukaannya Natal. Lebih menyedihkan lagi: detail-detail spesifiknya menguap. Pala dan acar lemon di dalam biryani berubah menjadi frasa yang licin dan tak berbau — “rempah dan cita rasa yang kaya”.
Saya membaca temuan itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sebab yang hilang di sana bukan sekadar diksi. Yang hilang adalah dapur seseorang, tangan ibunya, sore yang spesifik di sebuah kota yang spesifik. Yang tersisa: rempah yang kaya.
Nasi liwet yang ditanak di kastrol, dengan ikan asin dan kemangi yang dipetik pagi itu — akan diringkas mesin menjadi “hidangan tradisional yang lezat dan menggugah selera”. Secara tata bahasa tak ada yang salah. Secara peradaban, ada yang baru saja dicuri.
03Rata-rata Itu Tidak Sepolos Kelihatannya
Begitulah cara kerja model bahasa. Ia dilatih pada nyaris segala yang pernah ditulis manusia, lalu mengeluarkan versi yang paling mungkin secara statistik dari apa pun yang kita minta. Bukan versi yang paling menarik. Bukan yang paling orisinal. Yang paling rata-rata.
Dan rata-rata, sebagaimana ditunjukkan jurnalis dan novelis Vauhini Vara, tidak sepolos bunyinya. Kelayakan teks AI yang serba-cukup itu memberinya ilusi keamanan. Padahal yang sesungguhnya berlangsung adalah pengukuhan hegemoni budaya: nilai, selera, dan cara memandang dunia milik mereka yang membangun sistemnya. Perusahaan AI punya insentif kuat untuk menjaga keluarannya tetap berkenan — makin banyak orang merasa nyaman dengan hasilnya, makin banyak yang berlangganan.
Bagi saya, ini bukan kekhawatiran estetis. Ini kekhawatiran demokratis. Sebuah bangsa yang seluruh warganya menulis dengan satu register yang sama, dengan metafora yang sama, dengan struktur kalimat dari korpus yang sama — adalah bangsa yang ruang publiknya menyempit justru ketika kanal komunikasinya melebar. Kita akan punya lebih banyak teks, dan lebih sedikit suara.
04Roald Dahl Sudah Menulis Ini pada 1953
Yang paling mengganggu dari semua ini: tidak ada satu pun yang benar-benar baru.
Pada 1953, Roald Dahl menulis cerita pendek berjudul The Great Automatic Grammatizator. Tokohnya, Adolph Knipe, seorang insinyur yang diam-diam ingin menjadi penulis. Ia sudah mengarang ratusan cerita; tak satu pun diterbitkan. Alih-alih menyerah, ia membangun mesin pengarang cerita. Mesin itu sanggup menulis cerita lima ribu kata dalam tiga puluh detik. Sebuah novel dalam seperempat jam.
Tekan satu tombol untuk genre. Tombol lain untuk tema. Tombol lain lagi untuk gaya sastra. Keluarlah teks dengan tata bahasa dan struktur yang sempurna. Ceritanya cukup bagus. Cukup bagus untuk dijual.
Dahl menulisnya sebagai satire. Tujuh dekade kemudian, satire itu berubah menjadi spesifikasi produk. Yang dulu ditulis untuk ditertawakan, kini kita bayar dengan langganan bulanan.
05Pengakuan yang Harus Saya Sampaikan
Saya tidak sedang berkhotbah dari menara. Saya menulis esai ini dengan Claude terbuka di tab sebelah. Saya membangun pipeline konten dengan AI. Saya memakai AI untuk memeriksa konsistensi naskah disertasi, untuk menyisir putusan DKPP, untuk memformat rujukan. Menyembunyikan itu akan membuat seluruh tulisan ini munafik.
Tapi ada satu garis yang saya jaga, dan saya kira garis inilah yang perlu kita bicarakan bersama sebagai penulis, akademisi, dan pegawai publik.
AI boleh memegang perkakas, tidak boleh memegang pena. Ia boleh merapikan, memeriksa, mencari, menyusun ulang, mengingatkan. Ia tidak boleh memutuskan apa yang saya percayai.
Pertanyaan sederhana yang saya pakai untuk menguji diri sendiri cuma satu, dan sama persis dengan pertanyaan yang diajukan para peneliti MIT kepada partisipannya: bisakah saya mengutip satu kalimat dari tulisan ini, dari ingatan, dan menjelaskan mengapa kalimat itu ada di situ? Kalau jawabannya tidak, maka yang saya hasilkan bukan tulisan. Itu keluaran. Dan keluaran tidak pernah menandatangani apa pun — tidak surat dinas, tidak disertasi, tidak sejarah.
Staf muda itu, setelah percakapan kami, menulis ulang suratnya. Lebih lambat. Sedikit lebih kikuk. Ada satu kalimat yang terlalu panjang. Tapi ketika saya bertanya kenapa sebuah paragraf ada di situ, ia bisa menjawab. Bagi saya, surat yang kedua itu jauh lebih baik daripada yang pertama — bukan karena kalimatnya lebih indah, melainkan karena kali ini ada seseorang di dalamnya.
Utang kognitif tidak menagih besok. Ia menagih pada hari ketika kita benar-benar harus berpikir sendiri, dan mendapati otot itu sudah lama tidak dipakai. Pertanyaan yang tersisa untuk kita masing-masing bukan “apakah saya memakai AI”, melainkan: siapa yang masih berpikir di balik tulisan saya?
Rujukan
Kosmyna, N., dkk. (2025). Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing. MIT Media Lab (preprint, belum ditelaah sejawat).
Studi Cornell tentang homogenisasi tulisan lintas-budaya akibat bantuan penulisan AI — pergeseran menuju norma Barat dan hilangnya detail kultural spesifik.
Vauhini Vara — esai tentang “rata-rata” keluaran AI sebagai bentuk hegemoni budaya.
Roald Dahl (1953). The Great Automatic Grammatizator.
Esai ini terinspirasi tulisan “Writing is thinking, but what happens when AI does it for you?” di buletin Psychology Meets Writing.