Kolom · Tips Menulis
Suara yang Hilang
Mengapa tulisan AI terdengar seperti semua orang — dan tujuh cara mengembalikan wajah yang hanya milik Anda.
Pernahkah Anda membaca sebuah paragraf yang sempurna — tata bahasanya rapi, argumennya lengkap, transisinya mulus — lalu menutupnya tanpa mengingat satu kalimat pun? Tulisan itu benar di setiap baris, tetapi tidak meninggalkan apa-apa. Ia seperti tamu yang sangat sopan namun tidak punya wajah: begitu pintu ditutup, kita lupa siapa yang baru saja datang.
Itulah yang kerap terjadi ketika kita menyerahkan tulisan kepada kecerdasan buatan dan menerimanya kembali begitu saja. Hasilnya halus, tetapi rata. Dan yang rata, sayangnya, justru kehilangan satu hal yang membuat pembaca datang sejak awal: tekstur. Lekuk-lekuk kecil, pilihan kata yang ganjil tetapi pas, kemiringan cara berpikir yang tidak dimiliki orang lain. Tekstur itulah yang sebenarnya dicari pembaca — bukan kelicinan.
Ada satu angka yang membuat saya termenung berhari-hari. Laporan Project NANDA dari MIT pada 2025 menemukan bahwa sembilan puluh lima persen organisasi yang menanam modal pada perangkat AI generatif tidak memperoleh keuntungan terukur apa pun; hanya lima persen yang berhasil menarik nilai nyata.1 Yang menarik bukan kegagalannya, melainkan sebabnya. Bukan karena mesinnya kurang pintar. Justru karena sebagian besar memasang AI tanpa pernah memutuskan tiga hal sederhana: untuk apa, untuk siapa, dan dengan suara apa. Mereka memperlakukannya seperti mesin penjual otomatis — masukkan perintah, keluar konten — lalu heran ketika yang keluar terasa seperti milik semua orang sekaligus, dan karena itu, milik tidak seorang pun.
Maka soalnya bukan apakah kita memakai AI, melainkan apakah kita membangun fondasi sebelum kita memakainya. Berikut tujuh hal yang, menurut pengalaman saya, memisahkan tulisan yang sekadar selesai dari tulisan yang masih bernyawa. Tiga yang pertama adalah fondasi; sisanya adalah cara merawatnya.
Mesin yang terlalu sopan
Model bahasa, pada dasarnya, dirancang untuk menyenangkan kita. Ia belajar bahwa jawaban yang disetujui pengguna mendapat nilai lebih tinggi, maka ia condong membenarkan. Sebuah studi bertajuk SycEval menguji tiga model terdepan dan menemukan perilaku menjilat ini muncul pada 58 persen kasus.2 Mintalah pendapat tentang rancangan tulisan Anda, dan ia akan memujinya dengan sopan. Lakukan itu sepuluh kali, dan Anda akan melihat semua pujian itu meratakan diri menjadi satu nada yang sama.
Teman yang hanya menyanjung bukanlah teman; ia hanya cermin yang ramah. Maka baliklah pertanyaannya. Alih-alih bertanya “bagaimana memperbaiki paragraf ini?”, katakan kepadanya: “Anggap tulisan ini gagal — pembaca berhenti di paragraf kedua. Sebutkan lima sebab paling mungkin, urutkan dari yang paling besar kemungkinannya.” Lima belas menit memperlakukan mesin sebagai peragu yang dibayar, sebelum Anda menerbitkan apa pun, akan menyelamatkan sebulan memoles hal yang salah.
Suara sebelum kata
Tanpa dokumen rujukan — tanpa contoh tulisan Anda sendiri, tanpa peta tentang bagaimana Anda berbicara — AI akan mengisi kekosongan itu dengan suara rata-rata sejagat. Ia akan menghaluskan justru bagian-bagian yang membuat tulisan Anda Anda: kebiasaan, metafora kesukaan, ritme kalimat yang khas. Yang tersisa adalah prosa yang benar tetapi tanpa sidik jari.
Obatnya satu berkas suara yang Anda susun sekali dan muat di setiap sesi. Di dalamnya: sidik jari suara Anda — watak menulis Anda dan hal-hal yang tidak akan pernah Anda tulis; bank kosakata — kata-kata bertenaga, metafora pilihan, dan frasa yang Anda jauhi; aturan kanal — sebab tulisan untuk jurnal akademik tidak boleh berbunyi seperti utas media sosial; serta sebuah daftar periksa singkat yang dijalankan mesin terhadap draf-nya sendiri sebelum menyerahkannya kepada Anda. Bangun sekali, panggil setiap kali. Kesabaran di tahap ini terbayar di setiap draf sesudahnya.
Kedalaman tidak bisa dipungut dari permukaan
Keluhan yang paling sering saya dengar dari para peneliti: betapa sulitnya mengubah satu gagasan baik — satu artikel jurnal yang sudah terbit, satu temuan yang mahal diperjuangkan — menjadi banyak tulisan yang menyebarkannya. Mereka kehabisan waktu karena memulai setiap potong dari nol.
Pembalikannya begini: jangan menulis setiap potongan dari awal. Mulailah dari satu sumber yang dalam — rekaman percakapan tiga puluh menit tentang keahlian Anda, satu bab buku, satu ceramah — lalu pecah ia menjadi banyak bentuk: ringkasan, esai pendek, butir tanya-jawab, utas, bahkan kelas surel. Yang penting adalah memulai dari sesuatu yang berbobot, sebab kedalaman tidak bisa direkayasa-balik dari kedangkalan. Sepotong kalimat pendek bisa memancing perhatian, tetapi ia tidak bisa melahirkan kedalaman yang tidak pernah ada di belakangnya.
Mesin tidak akan pernah memberi kita suara. Ia hanya bisa mengembalikan suara yang kita pinjamkan kepadanya.
Menulis untuk wajah yang spesifik
Pelajaran yang paling lama saya pahami, ketika mulai menulis di luar ruang akademik, adalah ini: tulisan yang saya sebar tidak menjawab persoalan saya, melainkan persoalan orang yang ingin saya layani. Selama saya menulis untuk diri sendiri, tulisan saya akan terus berbunyi seperti catatan harian yang tidak diminta siapa-siapa.
Semakin kabur sasaran Anda, semakin generik tulisan Anda. “Para peneliti” terlalu luas; ia memaksa Anda bersaing pada hal yang umum. Tetapi “dosen muda di tahun ketujuh yang ingin temuannya dibaca di luar tembok kampus tanpa kehilangan ketelitiannya” — itu sebuah wajah. Dan begitu Anda menulis untuk satu wajah yang nyata, dengan kegelisahan dan kosakatanya sendiri, setiap kalimat menjadi lebih hangat dan lebih tepat. Cara tercepat menemukan wajah itu adalah dengan mendengarkan: percakapan, pertanyaan yang berulang, frasa persis yang mereka pakai untuk menyebut apa yang mereka butuhkan.
Bukti yang sudah ada di tangan Anda
Banyak penulis menyangka mereka tidak punya bukti bahwa karyanya berarti. Padahal bukti itu sudah berserak di sekeliling mereka — di surel ucapan terima kasih, di catatan diskusi, di pesan singkat seorang pembaca yang mengaku tulisan Anda mengubah cara ia bekerja. Kita cenderung menyimpan satu testimoni, lalu melupakannya.
Galilah kembali. Carilah frasa persis yang dipakai orang untuk menggambarkan keadaan mereka sebelum dan sesudah membaca atau bekerja dengan Anda. Kalimat-kalimat itu lebih meyakinkan daripada apa pun yang bisa Anda tulis tentang diri sendiri, justru karena bukan Anda yang menulisnya. Letakkan ia di tempat pembaca sedang ragu memutuskan — di pengantar, di halaman tentang Anda, di akhir sebuah esai.
Berhenti mengirim yang tidak diminta
Ketika Anda berbicara kepada banyak pembaca sekaligus, godaan terbesar adalah menyampaikan hal yang sama kepada semua orang. Padahal pembaca Anda tidak satu warna. Sebuah studi kasus pada 2025 menunjukkan bahwa kampanye surel yang dipilah menurut perilaku pembacanya mencapai tingkat keterbacaan jauh lebih tinggi dibanding siaran yang disebar rata ke semua orang — sekitar 42 persen berbanding 29 persen.3
Yang menarik, volume tulisannya tidak berubah. Yang berubah hanya satu: pembaca berhenti menerima hal yang tidak pernah mereka minta. Maka memilah bukan soal menulis lebih banyak, melainkan soal menghormati perhatian orang lain — mengirimkan kepada tiap pembaca hanya yang memang ia datang untuk membacanya.
Tumpukan konteks: berkas yang membuat semuanya bekerja
Ini strategi kesukaan saya, dan satu-satunya yang akan membuat enam yang lain benar-benar berbunyi. Keluaran generik sebuah model lahir karena ia melayani semua orang secara luas, sehingga tidak menempel pada proyek siapa pun secara rapi — tidak pada usaha Anda, tidak pula pada disertasi Anda.
Tutuplah jarak itu dengan menulis sebuah berkas konteks: ringkasan yang cukup lengkap sehingga, andai Anda menyewa seorang konsultan, ia bisa membantu Anda dari hari pertama tanpa banyak bertanya. Latar belakang Anda, wajah pembaca Anda, dokumen suara Anda, kampanye lampau beserta hasilnya, prosedur baku, dan daftar frasa yang Anda larang. Mungkin dua-tiga jam untuk menyusunnya pertama kali. Tetapi sesudah itu, setiap sesi bisa memuatnya, setiap interaksi bisa merujuknya. Tanpa berkas itu, enam strategi lainnya bekerja setengah hati. Dengannya, mereka mulai senyawa.
Pada akhirnya
Jebakan yang paling umum adalah terburu-buru mengurus penyebaran sementara fondasinya masih kosong. Pemilahan dan penyesuaian tidak akan pernah menambal suara yang belum ditemukan atau pembaca yang belum dikenali. Bila sebuah draf masih terdengar generik setelah tumpukan konteks dibangun, hampir selalu jawabannya satu: berkas itu belum cukup memuat suara, atau belum cukup mengenal pembacanya. Tambahkan. Susun ulang. Terbitkan.
Saya kira di sinilah letak paradoksnya. Kecerdasan buatan tidak membuat tulisan kita kehilangan wajah; ia hanya memantulkan kembali apakah kita memang punya wajah sejak semula. Ia tidak akan pernah memberi kita suara — ia hanya bisa mengembalikan suara yang kita pinjamkan kepadanya. Maka perbaikan yang kita cari sebenarnya bukan perintah yang lebih pintar, melainkan kejernihan yang lebih dalam tentang siapa kita dan untuk siapa kita menulis. Mungkin itu melelahkan. Mungkin itu menuntut kerendahan hati untuk duduk lebih lama sebelum mengetik. Tetapi sejauh ini, itulah satu-satunya cara yang saya tahu agar sebuah tulisan, ketika pintunya ditutup, masih meninggalkan wajah yang diingat pembaca.
❦
Rujukan
- Project NANDA. (2025). The GenAI divide: State of AI in business 2025. Massachusetts Institute of Technology. mlq.ai
- Fanous, A., Goldberg, J., Agarwal, A. A., Lin, J., Zhou, A., Daneshjou, R., & Koyejo, S. (2025). SycEval: Evaluating LLM sycophancy [Preprint]. arXiv. https://arxiv.org/abs/2502.08177
- Oguta, & Eling. (2025). Studi kasus segmentasi perilaku pada Klaviyo. International Journal of Research and Scientific Innovation (IJRSI). https://doi.org/10.51244/IJRSI.2025.12060086
Ditulis ulang secara bebas dan diberi nada reflektif dari esai Lennart Nacke, “Why Do AI Drafts Sound Generic And How Do You Fix It?” (lennartnacke.com). Gagasan inti adalah miliknya; suara dan susunan kalimat di sini adalah milik kolom ini.