Pengembangan Diri

Jika Kamu Tahu Kamu Takkan Gagal

Seorang mahasiswa baru ingin menjadi dokter, tetapi ia memilih jalur hukum. Bukan karena ia kehilangan mimpi — melainkan karena ia ragu pada dirinya sendiri.

Ada satu momen dalam percakapan itu yang membuat saya berhenti dan memikirkannya berhari-hari.

Seorang pembimbing dan seorang mahasiswa baru duduk berhadapan, menutup semester dengan semacam audit. Mereka menimbang nilai-nilai dari satu musim ke musim berikutnya, apa yang sedang terjadi dalam hidup anak muda itu, bagaimana ia hadir di ruang kuliah dan di antara teman-temannya. Lalu pembimbing itu mengajukan satu pertanyaan yang paling sederhana di dunia. “Apakah kamu bahagia?”

“Tidak,” jawabnya.

Bukan jawaban itu yang menahan saya. Yang menahan saya datang sesudahnya. Pembimbing itu mengganti pertanyaannya: seandainya kamu punya gudang keterampilan di bidang apa pun, seandainya kamu sama sekali tidak takut gagal, jurusan apa yang akan kamu pilih? Anak muda itu menjawab tanpa jeda. “Dokter.” Ia ingin menyelamatkan nyawa; ia membayangkan dirinya seorang ahli bedah.

Lalu, hampir di tarikan napas yang sama, ia menariknya kembali. “Saya rasa saya tidak cukup pintar.”

Ia menyebutkan alasannya satu per satu. Ia mudah terdistraksi. Ia tidak pernah pandai menghadapi ujian. Ia sulit bertahan fokus di tengah kuliah. Ia tahu sekolah kedokteran itu panjang dan berat, sedangkan ia merasa cepat bosan, mudah berpindah dari satu hal ke hal lain karena selalu ada yang baru menariknya.

Dan inilah ironi yang membuat saya lama terdiam: anak muda itu sedang menempuh jalur hukum. Jalur para pembela, orang-orang yang dilatih menyusun argumen dan memenangkan perkara. Tetapi pada satu perkara yang paling penting dalam hidupnya — perkara tentang dirinya sendiri — ia justru berdiri di pihak yang menjatuhkan vonis. Ia menjadi jaksa bagi mimpinya sendiri.

Pertanyaan yang menahan saya

Tak satu pun dari alasannya berbicara tentang hati. Semuanya berbicara tentang keterampilan.

Perhatikan apa yang sebenarnya ia keluhkan: rentang perhatian, cara belajar, cara mencatat, daya fokus. Dan keterampilan, berbeda dengan watak atau nasib, adalah sesuatu yang bisa ditumbuhkan. Ada jarak yang halus tetapi menentukan antara “saya belum bisa” dan “saya tidak cukup”. Yang pertama adalah peta jalan. Yang kedua adalah pintu yang ditutup sendiri.

Begitulah cara rasa takut bekerja. Ia jarang datang dengan wajahnya sendiri. Ia menyamar menjadi sikap realistis, menjadi kerendahan hati, menjadi pertimbangan yang masuk akal. Pelan-pelan ia membelokkan kita ke jalan yang lebih aman: jalan yang pas dengan keterampilan yang sudah kita miliki hari ini, bukan dengan panggilan yang sebenarnya kita pikul. Kita menyebutnya kedewasaan. Padahal kerap kali ia hanya cara yang terhormat untuk menyerah lebih awal.


Yang dilakukan pembimbing itu sederhana saja. Ia tidak menyuruh anak muda itu mencintai dirinya, tidak pula menjanjikan bahwa segalanya akan mudah. Ia hanya mengajukan satu syarat. Seandainya kita perbaiki semua itu — cara belajarmu, cara mencatatmu, fokusmu; dan bila perlu kita periksa apakah ada sesuatu yang bisa didiagnosis dan dibantu — apakah kamu akan memilih kedokteran? Anak muda itu terdiam sebentar. “Ya, mungkin.”

“Mungkin” itu menyimpan seluruh persoalannya. Jarak antara dia dan mimpinya tidak pernah terletak pada mimpinya. Jaraknya terletak pada keyakinan bahwa keterampilannya sudah selesai dibentuk, bahwa dirinya yang sekarang adalah dirinya yang terakhir. Ia menukar kedokteran dengan hukum bukan setelah menimbang dua panggilan, melainkan setelah tunduk pada satu ketakutan.

Saya menuliskan ini bukan untuk anak muda itu. Saya menuliskannya untuk kita yang sudah lama berhenti bertanya, yang sudah terlanjur menerima jalan kita sebagai satu-satunya yang pernah tersedia.

Untuk Anda yang membaca

Seberapa besar Anda berani bermimpi, seandainya Anda tahu Anda tidak akan gagal?

Dan jika Anda boleh menumbuhkan keterampilan apa pun yang dibutuhkan untuk sampai ke sana — apakah Anda akan memilih jalan yang berbeda untuk diri Anda sendiri?

Yunike Puspita, Bandung