Karya Digital / Cerpen

Petualangan Wangi ke TPS Pertamanya

sebuah karikatur

Ditulis oleh Yunike Puspita Realisme sosial ± 6 menit baca
Ilustrasi sampul: Wangi, seorang buruh konveksi muda, berdiri di gang dekat TPS sambil memegang surat suara dan KTP. Di belakangnya antrean pemilih dan tenda biru; di depannya mesin jahit, sepatu kanvas lusuh, dan catatan bertuliskan 'Satu jam upah. Dua kodi kerah. Satu suara.'
Ilustrasi sampul · Petualangan Wangi ke TPS Pertamanya

Sol sepatu kanvasnya yang kiri sudah menganga di ujung, dan pagi itu Wangi tahu ia akan berjalan lebih jauh dari biasanya. Biasanya ia hanya menyeberang gang — lima belas langkah dari pintu kontrakan ke pintu konveksi, tempat tiga puluh mesin jahit menderu sejak pukul tujuh. Hari ini ia harus ke sekolah dasar di ujung blok, tempat orang-orang memasang tenda terpal biru semalam, lalu pulang lagi, lalu tetap menyelesaikan dua kodi kerah kemeja sebelum magrib. Itu pun kalau Mang Endi mengizinkan.

“PESTA DEMOKRASI,” begitu bunyi spanduk yang dibentang di mulut gang, hurufnya merah di atas dasar putih, sudah agak melengkung kena hujan kemarin. Wangi membacanya sambil mengikat rambut. Ia belum pernah ke pesta yang dimulai pukul tujuh pagi dan mengharuskan orang antre berdiri.

Surat itu — kertas kecil yang diantar Pak RT tiga hari lalu, namanya tercetak dengan huruf yang sedikit miring, Wangi Lestari, tempat dan tanggal lahir benar, alamat benar — sudah terselip di sela kaca jendela sejak datang. Emaknya yang menyimpankan. “Disimpen, Ngi. Ulah leungit.” Jangan hilang. Emaknya sendiri tidak pernah kehilangan surat semacam itu seumur hidupnya, dan tidak pernah pula punya waktu mengantre dengan tenang. Lima kali pemilu, Emak selalu datang menjelang tutup, pukul satu kurang, dengan tangan masih bau bawang dari dapur katering tempatnya kerja harian. Datang, mencoblos, balik. Tidak pernah ada pesta untuk Emak.

Sekarang Wangi delapan belas tahun, lewat dua bulan. Tahun ini gilirannya masuk daftar. Sebuah baris dengan namanya di dalam buku petugas — itulah yang berubah dari hidupnya. Selebihnya tetap: mesin, benang, kodi, potongan ongkos kalau jahitannya meleset jahit.

Pukul tujuh kurang, ia mengetuk kaca ruang Mang Endi.

“Mang, Wangi izin sakedap. Bade ka TPS.” Mau ke TPS.

Mang Endi tidak mengangkat kepala dari buku setoran. “Sing gancang.” Yang cepat. “Sajam, potong sajam. Leuwih sajam, potong satengah poé.”

Satu jam, potong satu jam. Lebih dari satu jam, potong setengah hari.

“Antrena panjang, Mang—”

“Nu séjén ogé daratang, teu izin.” Yang lain juga datang, tidak izin. Mang Endi membalik halaman. “Maranéhna nyoblos beurang, pas istirahat.” Mereka mencoblos siang, waktu istirahat.

Wangi tahu hitungannya. Kalau ia menunggu jam istirahat, antrean jadi dua kali lipat dan ia kehilangan lebih dari sejam. Maka ia memilih pagi. Setengah hari ongkos jahit adalah dua puluh ribu rupiah kurang sedikit. Dua puluh ribu adalah beras dua hari. Begitulah harga sebuah suara, dihitung dari kursi di depan mesin jahit: bukan dalam istilah masa depan bangsa, melainkan dalam beras.

Ia tidak membantah. Anak konveksi tidak membantah mandor di pagi hari setoran. Ia hanya mengangguk, dan angguknya itu — kalau ada yang sempat memperhatikan — adalah angguk orang yang sudah menghitung dan sudah kalah hitung, tetapi tetap berangkat.

Tenda terpal biru itu dipasang di halaman sekolah, di antara dua pohon mangga yang buahnya sudah dipetiki habis anak-anak. Di mejanya, tujuh orang petugas berbaju seragam — rompi dengan logo, topi, dan wajah yang sudah lelah sejak subuh karena mereka tiba pukul lima untuk memasang segalanya. Antrean sudah mengular. Ibu-ibu di depan, daster dan sandal jepit, kipas-kipas dengan amplop undangan. Bapak-bapak bersarung, kopiah, sebagian masih mengantuk. Wangi paling muda di barisan itu. Ia tahu, sebab tidak ada yang seusianya. Yang seusianya sedang menjahit, atau jaga toko, atau belum bangun.

“Kamu anaknya Bu Imas, ya?” tanya seorang ibu di depannya, menoleh.

“Sumuhun, Bu.” Iya, Bu.

“Ibumu mana? Kerja?”

“Katering, Bu. Ada acara di Soreang.”

“Tah,” kata ibu itu, seperti menemukan sesuatu yang sudah ia duga. “Ibu-ibu mah teu kungsi reureuh.” Ibu-ibu memang tidak pernah istirahat. Ia kembali menghadap ke depan, mengipas. “Engke ogé manéh kitu.” Nanti kamu juga begitu.

Wangi tidak menjawab. Kalimat itu bukan ramalan; kalimat itu keterangan. Diucapkan dengan nada orang yang menyebut bahwa matahari terbit dari timur. Di antrean itu, antara dua pohon mangga gundul, masa depan Wangi sudah dibacakan untuknya oleh seorang ibu berdaster yang bahkan tidak berniat menyakitinya.

Spanduk yang lain, dipaku di pagar, berbunyi: SUARAMU MENENTUKAN MASA DEPAN. Wangi membacanya pelan. Masa depan yang sedang ditentukan suaranya pagi ini, pikirnya, adalah potongan satu jam upah dan dua kodi kerah yang harus dikejar sampai magrib. Itu masa depan yang ia kenal. Masa depan yang lain — yang dimaksud huruf-huruf besar di pagar itu — terlalu jauh untuk dilihat dari barisan tempatnya berdiri.

Empat puluh menit ia menunggu. Kakinya pegal. Sepatu kanvas kirinya menganga makin lebar tiap kali ia memindah berat badan. Sampai akhirnya namanya dipanggil, dieja oleh petugas muda yang suaranya parau.

“Wangi Lestari?”

“Sumuhun.”

Ia menyerahkan surat dan KTP. Petugas mencocokkan, mencontreng daftar, memberinya satu lembar besar kertas yang dilipat. Kertas itu lebih lebar dari dada Wangi. Ia membawanya ke bilik — kotak kardus berdinding tiga, dengan paku terikat benang kasur yang ujungnya sudah agak bengkok karena dipakai ratusan tangan sejak pagi.

Di dalam bilik ia membuka lipatan itu. Wajah-wajah. Nomor-nomor. Sebagian ia kenal dari obrolan di warung Mang Ujang, dari spanduk di perempatan, dari suara televisi tetangga yang dindingnya tipis. Sebagian besar tidak. Ia tidak pernah punya malam yang panjang untuk membaca tentang mereka; malamnya habis untuk mengejar setoran, dan kalau ada sisa, untuk tidur. Kertas itu menganggap semua orang yang masuk bilik datang dengan bekal yang sama — waktu yang sama untuk menimbang, kepala yang sama tenangnya. Wangi datang dengan kaki pegal dan jam yang sudah dipotong. Tetapi paku di tangannya sama beratnya dengan paku di tangan siapa pun pagi itu. Itulah satu-satunya hal di seluruh halaman sekolah ini yang dibagi rata.

Ia menimbang. Ia sudah menimbang, sebenarnya, sejak di atas motor angkot tadi, dan di warung kemarin, dan setiap kali dinding tetangga meneruskan suara berita. Bukan benar ia tidak tahu apa-apa. Ia hanya tahu lebih sedikit daripada yang dianggap pantas oleh huruf-huruf besar di pagar. Ia memilih. Paku itu menembus kertas dengan bunyi pendek. Tok. Sudah.

Ia melipat kembali kertas yang lebar itu, susah, karena lipatannya tidak mau kembali ke bekas semula. Memasukkannya ke kotak yang celahnya sempit. Lalu jarinya — kelingking kiri — dicelup ke botol tinta ungu di meja paling ujung. Petugas tidak melihat wajahnya, hanya jarinya. Ungu itu dingin sebentar, lalu kering.

“Hatur nuhun, Néng.” Terima kasih, Nak.

Pukul delapan kurang lima ia sudah kembali di depan mesinnya. Lima puluh lima menit, seluruh petualangannya. Mang Endi mencatat sesuatu di buku setoran tanpa berkata apa-apa — Wangi tahu catatan itu tentang dirinya, tentang potongan sejam. Ia tidak bertanya. Ia menarik kerah kemeja yang belum jadi, meletakkannya di bawah jarum, menekan pedal.

Mesin menderu. Benang menarik dirinya dari kones, masuk ke lubang jarum, turun-naik, turun-naik. Kelingking kirinya yang ungu ikut bergerak menahan kain, dan warna ungu itu — satu-satunya tanda bahwa pagi ini ada yang berbeda dari pagi mana pun — perlahan tertutup serat-serat kapas yang beterbangan di udara konveksi, sampai hampir tak kelihatan lagi.

Di mulut gang, spanduk merah putih itu masih melengkung kena angin. Pesta sudah dimulai dan akan berlangsung sampai tutup pukul satu, dan orang-orang akan datang dan pulang, dan jari-jari kelingking akan menua ungu. Wangi tidak ikut sampai selesai. Kerah kemeja tidak menunggu siapa pun. Ia menjahit. Dua kodi, sebelum magrib.

Catatan: Tokoh, tempat, dan peristiwa dalam karikatur ini fiktif. Cerita tidak menyebut peserta pemilu, partai, atau pilihan tertentu.

Kembali ke Karya