Ada satu jenis rapat yang membuat saya pulang dengan kepala berat, dan itu bukan rapat yang gagal. Justru sebaliknya. Semua hadir, semua siap, dan orang paling cakap di ruangan berbicara paling banyak. Ia benar hampir di setiap poin. Tapi setiap kali ia benar, ada sesuatu yang perlahan bergeser di ruangan itu, dan saya butuh waktu lama untuk berani menyebut namanya: saya sedang berhitung, jangan-jangan saya kalah.
Setiap pemimpin unit pernah punya orang seperti itu. Analis yang datanya paling rapi. Operator SIREKAP yang paling paham sistem ketika semua orang panik. Staf yang laporannya tidak pernah perlu dikoreksi dua kali. Mereka menopang kinerja bagian, dan itu sebabnya kita mempertahankan mereka. Mereka juga memotong kalimat kita di depan orang lain, dan itu sebabnya kita diam-diam menghindari mereka.
Sayang sekali, di banyak kantor pemerintah, jalan keluar yang dipilih adalah jalan yang paling merusak: pemimpin mulai memperkecil orang kuat itu. Tugasnya dipersempit. Namanya tidak masuk tim strategis. Idenya diterima tapi tidak pernah disebut sumbernya. Wibawa dipertahankan dengan cara memiskinkan orang lain. Dan kita menyebutnya menjaga hierarki.
Saya ingin mengusulkan cara pandang yang lain. Wibawa bukan sesuatu yang kita pertahankan. Wibawa adalah sesuatu yang kita berikan, dan yang kembali kepada kita dalam bentuk yang sudah berubah.
SatuBerikan kepemilikan, bukan perintah
Orang berkepribadian kuat tidak alergi pada arahan. Mereka alergi pada pengawasan yang tidak berhenti. Ketika kita menentukan tujuan sekaligus cara mencapainya, kita sedang mengatakan sesuatu yang tidak kita sadari: kepalamu tidak dibutuhkan, tanganmu saja cukup. Orang biasa akan menurut. Orang cakap akan diam, lalu pergi — kadang secara administratif, lebih sering secara batin.
Tugas pemimpin adalah mengunci dua hal saja: hasil dan pagarnya. Hasil, karena itulah yang dipertanggungjawabkan kepada publik. Pagar, karena kita bekerja di lembaga yang tunduk pada regulasi dan tenggat tahapan. Selebihnya, lepaskan.
“Saya tidak akan mengatur langkah demi langkah. Yang saya butuhkan jelas: bahan paparan siap Jumat sore, angkanya harus bisa ditelusuri ke sumber resmi, dan tidak boleh ada data pemilih yang keluar dari sistem. Cara kerjanya terserah Anda. Kalau mentok, datang ke saya sebelum mentoknya jadi masalah.”
Kalimat terakhir itu penting dan sering dilupakan. Memberi kepemilikan tanpa membuka pintu adalah melempar orang ke tengah laut sambil berkata, “saya percaya kamu bisa berenang.” Kepercayaan tanpa jaring pengaman bukan kepercayaan. Itu pelepasan tanggung jawab yang dikemas rapi.
DuaTarik garis antara berdebat dan merendahkan
Gesekan itu sehat. Lembaga penyelenggara pemilu justru berbahaya kalau semua orang mengangguk. Keputusan yang tidak pernah dibantah biasanya keputusan yang belum diuji. Maka beri ruang untuk membantah, dan minta bantahan itu dalam bentuk yang paling tajam.
Tapi ada perbedaan yang harus kita ucapkan keras-keras, karena kalau tidak diucapkan ia akan dilanggar terus-menerus: menyerang gagasan itu boleh, menyerang orang tidak. Dan ada satu garis lagi yang lebih sering kabur di kantor kita — bahwa perdebatan punya batas waktu. Sesudah keputusan diambil, ruang debat ditutup, dan semua orang mendayung ke arah yang sama. Termasuk yang kalah dalam perdebatan itu. Terutama yang kalah.
“Saya menghargai Anda menolak ini, dan justru karena itu Anda ada di ruangan ini. Pertimbangan Anda sudah masuk hitungan. Tapi keputusannya sudah diambil, dan arahnya ke sini. Yang saya butuhkan sekarang bukan persetujuan Anda, melainkan dukungan penuh Anda. Bisa saya andalkan?”
Perhatikan bahwa kalimat itu tidak meminta orang berubah pikiran. Meminta orang berubah pikiran adalah permintaan yang tidak jujur; kita tahu ia tidak akan berubah, dan ia tahu kita tahu. Yang diminta adalah loyalitas pada keputusan bersama, bukan pada pendapat pimpinan. Dua hal itu berbeda, dan kantor yang tidak bisa membedakannya akan terus mengira ketaatan sebagai kesepakatan.
TigaBicarakan konfliknya langsung
Inilah yang paling jarang kita lakukan. Ketika seseorang bersikap merendahkan dalam rapat, kita menyimpannya. Kita bahas dengan orang lain di ruang sebelah. Kita sindir halus di grup WhatsApp bagian. Kita tunggu sampai penilaian kinerja akhir tahun, lalu menuliskannya dalam bahasa yang begitu sopan sehingga yang bersangkutan tidak pernah benar-benar tahu apa yang salah.
Kita mengira itu menjaga suasana. Sebenarnya kita sedang menghindari lima menit yang tidak nyaman, dan membayarnya dengan enam bulan hubungan kerja yang keruh.
“Saya mau bicara satu hal langsung, supaya tidak menggantung. Di rapat tadi, nada Anda terdengar meremehkan waktu [Nama] sedang bicara. Rapatnya jadi kehilangan arah setelah itu. Isi pikiran Anda terlalu berharga untuk tenggelam gara-gara cara menyampaikannya. Saya minta perdebatan kita tetap di wilayah gagasan.”
Tidak ada basa-basi pembuka. Tidak ada sandwich pujian yang sudah dihafal semua pegawai sejak diklat kepemimpinan. Peristiwanya disebut, dampaknya disebut, dan orangnya tetap dihargai. Anehnya, percakapan semacam ini hampir tidak pernah berakhir buruk. Yang berakhir buruk justru percakapan yang tidak pernah terjadi.
Yang sebenarnya sedang diuji
Ada satu hal yang saya pelajari bukan dari buku manajemen, melainkan dari mengurusi ratusan pegawai di lingkungan yang tekanannya datang dari tenggat tahapan dan dari sorotan publik sekaligus. Rasa terancam yang muncul saat menghadapi bawahan yang cakap itu hampir tidak pernah berhubungan dengan bawahan tersebut. Ia berhubungan dengan seberapa yakin kita pada dasar kita berdiri.
Pemimpin yang wibawanya bertumpu pada jabatan akan selalu merasa terancam, karena jabatan bisa berpindah dan setiap orang cakap adalah kandidat. Pemimpin yang wibawanya bertumpu pada kemampuan mengambil keputusan, menanggung akibatnya, dan menjaga orang-orangnya tetap tumbuh, tidak punya apa pun yang perlu dijaga dari staf terbaiknya. Orang itu bukan pesaing. Orang itu bukti kerjanya.
Di lembaga seperti KPU, taruhannya lebih besar daripada kenyamanan seorang kepala bagian. Kita bekerja di institusi yang legitimasinya tidak pernah selesai dibangun, yang harus meyakinkan publik berulang kali bahwa prosedurnya bersih dan orang-orangnya cakap. Institusi seperti itu tidak mampu membiayai kebiasaan memelihara orang penurut dan meredam orang berpikir. Ongkosnya ditagih di tempat yang tidak kita duga: pada ketelitian yang menurun, pada masalah yang dilihat orang tapi tidak dilaporkan, pada rapat yang lancar tapi tidak menghasilkan apa-apa.
Maka pertanyaannya bukan bagaimana caranya memimpin orang berkepribadian kuat tanpa kehilangan wibawa. Pertanyaannya lebih tidak nyaman dari itu: kalau memberi kepercayaan penuh kepada orang paling cakap di bagian saya membuat wibawa saya goyah, sebenarnya wibawa itu berdiri di atas apa?
Saya belum selalu berhasil menjawabnya dengan tenang. Tapi saya sudah berhenti menyalahkan orang-orang yang membuat saya harus bertanya.