Esai & Renungan
Di luar naskah akademik dan dokumen kelembagaan, ada tulisan yang saya kerjakan lebih bebas — esai dan renungan tentang demokrasi, kebangsaan, dan apa yang sebenarnya dijaga oleh sebuah pemilu. Lahir dari pengalaman lima belas tahun di dalam lembaga, bukan teori yang diamati dari luar.
Naskah Terbaru · Tata Kelola & Manusia
Di birokrasi kita, orang paling rajin belum tentu orang yang naik. Politik kantor bukan intrik — ia keterampilan membaca ruangan yang tidak pernah masuk silabus diklat. Sebuah unggahan yang disimpan 155 orang secara diam-diam jadi pintu masuk: dua kurikulum di satu kantor, mengapa bagan organisasi bukan peta kekuasaan, beda menjilat dan kerja staf, serta tiga uji sebelum taktik jadi manipulasi — ditutup garis netralitas yang tak boleh disentuh perhitungan karier. Dilengkapi ilustrasi, versi 10 kartu ringkas yang bisa digeser, dan dapat didengarkan.
Tulisan Lainnya
Esai · Literasi AI
Di kelas keamanan siber Duke University, mahasiswa diminta membujuk sebuah chatbot yang dirancang untuk tidak pernah memberi nilai A. Terdengar seperti permainan, tapi tugas “Hack Your Grade” itu melatih empat hal yang biasanya hanya jadi bahan bacaan: persuasi, prompt injection, rekayasa sosial, dan kritik terhadap perilaku model. Dari sana lahir cara baru memikirkan literasi AI — tumbuh dari kebiasaan menguji, bukan menghafal definisi. Dilengkapi versi 10 kartu ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Esai · Ekonomi Kreator
Konten ramai, penghasilannya nol. Studi atas 146.271 produk digital menunjukkan 44 persen tak menghasilkan apa pun — dan masalahnya hampir tidak pernah algoritma, melainkan urutan menaiki tangga monetisasi. Empat pijakan, dari umpan gratis sampai mesin pendapatan berulang, ditutup tiga catatan jujur yang tidak ditulis di naskah aslinya: bias pemenang, mata uang yang berbeda, dan pagar kewenangan jabatan yang tak boleh dilompati.
Baca →Refleksi · Literasi AI
Orang yang dulu paling rajin mengajarkan seni menulis prompt kini menyatakan prompting sudah mati. Yang mati bukan percakapan dengan mesin — melainkan monolog kita di hadapannya. Sebuah refleksi tentang berpindah dari menyuapi mesin ke membangun sistem yang bisa mengingat: skill sebagai SOP, connectors sebagai arsip hidup, dan tiga kata yang membalik arah — “tanya saya dulu”. Dilengkapi versi 9 kartu ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Catatan Kerja · Literasi AI
Limit habis sebelum tengah hari jarang soal paket langganan — lebih sering soal cara kita menyusun maksud sebelum menekan kirim. Dua puluh satu kebiasaan boros token, dari PDF mentah yang diunggah apa adanya sampai percakapan yang tak pernah dimulai ulang, lengkap dengan perbaikan yang bisa langsung dipakai dan urutan penerapan minggu pertama. Dilengkapi ilustrasi kartun.
Baca →Esai · Literasi AI
Belum pernah jawaban sebegini murah, dan belum pernah pemahaman terasa sebegini tipis. Otak menyimpan bukan yang ia terima dengan mudah, melainkan yang ia perjuangkan. Enam prompt untuk menyuruh mesin berhenti memanjakan kita — dan mulai memaksa kita berpikir: menahan jawaban, membongkar rasa cukup tahu, lalu menyusun dan menguji. Dilengkapi ilustrasi, versi 9 kartu ringkas yang bisa digeser, dan dapat didengarkan.
Baca →Esai · Kerja & Penghidupan
Daftar dua puluh sembilan cara mencari penghasilan tambahan bermodal nol beredar di mana-mana. Yang lebih menarik bukan isinya, melainkan mengapa kita begitu ingin mempercayainya — tiga hari, dua puluh sembilan pilihan, nol langkah. Tentang jarak antara menyimpan dan memulai, bagian yang tidak ditulis di daftar mana pun, dan empat catatan untuk pembaca di Indonesia. Dilengkapi ilustrasi, versi 9 kartu ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Esai · Kepemimpinan
Orang paling cakap di ruangan sering kali orang yang paling sulit dipimpin — dan jalan keluar yang paling lazim justru yang paling merusak: memperkecil orang kuat demi menjaga hierarki. Tiga cara memimpin kepribadian kuat tanpa kehilangan wibawa, lengkap dengan kalimat yang bisa dipakai besok pagi. Dilengkapi versi 9 kartu ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Esai · Perhatian & Mutu
Kita mendengarnya ratusan kali: karya yang bagus akan berbicara sendiri. Gregor Mendel dan Douglas Prasher membuktikan sebaliknya — keduanya memenangkan perang mutu, lalu kalah di perang perhatian. Mutu menentukan apakah perhatian berbuah, bukan apakah perhatian datang. Dilengkapi versi 9 kartu ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Esai · Menulis & AI
Kecerdasan buatan kini bisa mendraf satu bab dalam hitungan detik — tapi naskah jarang mati karena kehabisan ide. Enam prompt sebagai perancah untuk membawa Anda dari nol ke draf dalam satu sore — satu untuk menguji, lima untuk membangun — dengan pagar pengaman yang membuatnya jujur. Tiap prompt bisa disalin sekali klik. Dilengkapi versi 10 kartu ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Refleksi · Literasi AI
Prompt engineering adalah kebiasaan paling mahal yang kita pelihara diam-diam — 52 jam setahun untuk menerangkan ulang diri kepada mesin. Yang paling ahli justru paling rugi. Jalan keluarnya bukan prompt yang lebih pintar, melainkan skill: SOP yang bisa dibaca mesin, dibangun sekali dalam 15 menit lalu terus belajar sendiri. Dilengkapi versi 10 kartu ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Refleksi · Menulis & AI
Riset MIT Media Lab merekam otak 54 orang dengan EEG — dan 83% yang menulis pakai ChatGPT tak sanggup mengutip satu kalimat pun dari esai yang baru saja mereka “tulis”. Tiga temuan riset, satu satire Roald Dahl tahun 1953, dan satu garis merah: AI boleh memegang perkakas, tidak boleh memegang pena. Dilengkapi versi 10 kartu ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Protokol · Produktivitas Riset
Menahu apa yang tidak perlu dibaca sama pentingnya dengan membaca itu sendiri. Sebuah protokol memetakan satu bidang riset dalam satu pagi: menyortir 50 paper jadi tiga tumpukan sebelum satu baris pun dibaca, tiga lintasan baca ala Keshav, dan concept matrix ala Webster & Watson — plus tiga titik tempat AI benar-benar menghemat waktu, dengan satu garis merah. Dilengkapi versi 9 kartu ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Refleksi · Literasi AI
Setiap sesi baru dengan AI terasa seperti memperkenalkan diri dari awal kepada kolega yang kehilangan ingatan. Tentang satu file kecil bernama CLAUDE.md yang menyudahi pengulangan itu — dan pelajaran yang lebih besar di baliknya: teknologi boleh mengingat, tapi apa yang layak diingat tetap wilayah manusia. Dilengkapi versi 6 kartu ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Catatan · Produktivitas & AI
Kebanyakan orang menyerah pada AI setelah satu percobaan yang mengecewakan — padahal mereka baru saja membandingkan anak magang hari pertama dengan karyawan terbaiknya. Empat prinsip untuk melatih AI seperti karyawan baru, pola kerja 10–80–10, dan satu peringatan sebelum mengotomatiskan segalanya. Dilengkapi versi 6 slide ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Esai · Neurosains & Produktivitas
Di balik kebiasaan menunda ada perang neurokimia di antara dua sistem otak — dopamin yang menarik dan kortisol yang menahan. Sebuah protokol empat langkah untuk menaklukkannya, dan satu pembeda penting: menunda, atau sebenarnya ragu? Dilengkapi versi 6 slide ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Esai · Kerja & Teknologi
Di tahun ketika apa pun bisa diproduksi dalam hitungan menit, yang langka bukan lagi kemampuan membuat, melainkan keberanian memutuskan apa yang tidak kita serahkan. Alat memberi draf; manusia memberi suara — dan tanda tangan. Dilengkapi versi 6 slide ringkas dan dapat didengarkan.
Baca →Esai · Riset & Cara Berpikir
Di zaman ketika jawaban begitu murah, keterampilan paling langka justru yang paling tua: tahu cara bertanya. Tiga jenis pertanyaan riset dan kerangka lima tahap agar riset tidak sia-sia — dari meja disertasi sampai ruang kelembagaan.
Baca →Panduan · Bisnis & AI
Setiap kali Anda meminta Claude menulis, sebenarnya Anda menyewa pekerja lepas dan menjelaskan ulang merek dari nol. Skill mengubahnya menjadi aset yang dibangun sekali lalu berbunga selamanya — dibaca lewat lensa Warren Buffett dan Naval Ravikant.
Baca →Panduan · Bisnis & AI
Empat fase, tiga puluh hari, satu aksi tiap hari yang dipetakan ke satu kemampuan Claude — dari niche dan audiens hingga tawaran yang sudah terjual sebelum dibuat. Dilengkapi versi 15 slide interaktif dan dapat didengarkan.
Baca →Renungan · Era AI
Ketika mesin bisa belajar lebih cepat, bekerja lebih rapi, dan keliru lebih jarang daripada kita — empat keahlian justru tetap menjadi milik manusia: agensi, selera, penilaian, dan generalisme mendalam.
Baca →Obituari · In Memoriam
Mengenang Kang Dahoz dan Bu Niknik — dua sahabat, dua keluarga besar KPU Jawa Barat, yang pergi dalam selang lima hari. Sebuah obituari yang berani menanyakan: berapa banyak lagi pengabdian yang harus dibayar dengan nyawa?
Baca →Editorial · Pengembangan Karier
Penilaian tentang apa yang patut dibangun, sistem untuk merawatnya, dan seni membaca medan — tiga disiplin yang jarang diajarkan, ditenun dari Naval Ravikant, James Clear, dan kearifan lama membaca situasi sebelum bergerak.
Baca →Esai · Demokrasi & Kebangsaan
Di tengah dunia yang retak oleh identitas dan kepentingan, lima sila yang kita warisi sejak 1945 menyimpan satu pelajaran tua yang masih kita perlukan: cara hidup bersama justru karena kita berbeda.
Baca →Esai Reflektif
Demokrasi tidak dimulai dari kesediaan kita untuk bicara, melainkan dari kesediaan kita untuk mendengar — sebuah sintesis lintas-zaman, dari Pericles dan Locke hingga Hatta dan Habibie.
Baca →Esai Reflektif
Apa yang sebenarnya hilang ketika sebuah bangsa berhenti ditanya melalui pemilihan umum. Sebuah renungan dari warung kopi, ruang konstitusi, dan rentang peradaban.
Baca →Antologi Masyarakat
Lima cerita warga biasa Jawa Barat, dibaca dalam cermin pemikiran Dewi Sartika, Otto Iskandardinata, Mohammad Hatta, Ajip Rosidi, dan Dedi Mulyadi.
Baca →Cerpen · Realisme Sosial
Karikatur tentang seorang buruh konveksi muda yang mencoblos di TPS pertamanya — cara demokrasi terasa di ujung jari seseorang yang baru pertama kali memilih.
Baca →Saya terbuka menjadi narasumber untuk forum akademik dan internal kelembagaan tentang demokrasi, tata kelola pemilu, dan kepemimpinan publik — atau berdiskusi tentang sebuah gagasan yang sedang Anda garap.
Mari ngobrol →