Kolom Suara · Refleksi tentang Kerja & Teknologi
Lima Puluh Alat, Satu Pertanyaan
Di tahun ketika apa pun bisa diproduksi dalam hitungan menit, yang langka bukan lagi kemampuan membuat, melainkan keberanian memutuskan apa yang tidak kita serahkan.
Pukul 19.44, di sela perjalanan pulang, saya menyimpan sebuah daftar. Lima puluh lebih perkakas kecerdasan buatan, tersusun rapi menurut keperluan: menulis, menggambar, membuat video, menyusun lagu, membedah data. Satu tangkapan layar, dan seolah seluruh isi sebuah studio kreatif berpindah ke dalam genggaman tangan.
Ada rasa takjub di sana. Tetapi, kalau jujur, ada pula sedikit pening. Daftar itu tidak benar-benar menjawab apa pun. Ia hanya memperbanyak kemungkinan, dan kemungkinan yang berlimpah punya cara tersendiri untuk membuat kita kewalahan, bukan merdeka.
Selama bertahun-tahun, hambatan dalam berkarya hampir selalu bersifat teknis. Untuk membuat video dibutuhkan kamera dan ruang sunting. Untuk menerbitkan tulisan dibutuhkan penerbit. Untuk menganalisis data dibutuhkan orang yang paham statistik. Kelangkaan itu menjengkelkan, tetapi ia juga menyaring: tidak semua niat sempat menjelma jadi karya, dan yang lolos biasanya sudah dipikirkan masak-masak.
Kini saringan itu nyaris hilang. Produksi menjadi murah, cepat, dan tersedia untuk siapa saja. Maka pertanyaannya bergeser, dan pergeseran inilah yang sebetulnya penting.
01 — PergeseranDari “bisakah aku?” menjadi “haruskah aku?”
Dulu pertanyaan utama seorang pekerja kreatif adalah bisakah aku membuat ini? Sekarang jawabannya hampir selalu ya. Yang tersisa, dan yang jauh lebih sulit, adalah pertanyaan berikutnya: haruskah aku membuatnya, dan bagian mana yang tidak boleh kuserahkan?
Sebuah model bisa menuliskan draf pidato dalam tiga puluh detik. Ia bisa meringkas laporan dua ratus halaman menjadi satu paragraf yang rapi. Ia bisa membuatkan video sambutan tanpa saya perlu berdiri di depan kamera. Semua itu nyata, dan sebagiannya memang membantu. Tetapi tidak ada satu pun di antaranya yang bisa memikul hal yang paling menentukan: pertimbangan.
Alat melipatgandakan apa yang bisa kita hasilkan. Ia tidak pernah, sekalipun, menggantikan apa yang layak kita pertanggungjawabkan.
Pertimbangan tidak bisa diunduh. Ia tumbuh dari pengalaman, dari kesalahan yang pernah dibayar mahal, dari memahami konteks orang-orang yang akan terdampak oleh sebuah keputusan. Sebuah kalimat yang keliru dalam surat resmi bukan sekadar typo; ia bisa melukai kepercayaan. Sebuah ringkasan yang menghilangkan nuansa bukan sekadar pemampatan; ia bisa menyesatkan pembaca yang tidak sempat membaca aslinya.
02 — Tanda TanganDi ruang publik, akuntabilitas tak bisa didelegasikan
Saya bekerja di lembaga yang sandarannya adalah kepercayaan. Dokumen yang keluar dari meja saya membawa nama institusi, dan di balik nama itu ada manusia-manusia yang menanggung akibatnya. Di ruang seperti ini, ada garis yang jelas. Alat boleh membantu menyusun, merapikan, mempercepat. Tetapi tanda tangan tetap milik manusia, dan tanda tangan adalah bentuk lain dari kata saya bertanggung jawab.
Inilah yang sering luput ketika kita silau pada daftar lima puluh alat itu. Mesin tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. Ia tidak hadir di rapat ketika sebuah keputusan dipertanyakan. Ia tidak menatap mata orang yang dirugikan oleh sebuah kekeliruan. Karena itu, semakin banyak yang bisa kita serahkan kepada mesin, semakin penting kita memperjelas apa yang justru harus tetap kita pegang sendiri.
Efisiensi adalah hal yang baik. Tetapi efisiensi yang tidak disertai pertimbangan hanya mempercepat kita sampai ke tempat yang keliru.
03 — SuaraYang membuat sebuah kolom layak disebut “suara”
Kolom ini bernama Suara, dan saya semakin merasa nama itu tepat justru di tahun ini. Sebab alat mana pun, secanggih apa pun, hanya sanggup memberi kita draf. Susunan kata yang masuk akal, kalimat yang mengalir, struktur yang rapi. Yang tidak bisa ia berikan adalah suara: posisi yang kita ambil, hal yang kita anggap penting, cara kita memandang dunia yang tidak persis sama dengan cara orang lain memandangnya.
Saya tidak menolak alat-alat itu. Sebagian saya pakai hampir setiap hari, dan saya bersyukur ia ada. Tetapi saya berusaha memperlakukannya sebagaimana mestinya: sebagai tukang, bukan sebagai penentu. Ia boleh memegang palu dan gergaji. Keputusan tentang rumah seperti apa yang hendak dibangun, dan untuk siapa, tetap ada di tangan saya.
Maka, lain kali sebuah daftar perkakas baru lewat di layar Anda pada pukul 19.44, mungkin pertanyaan yang lebih berguna bukanlah “alat mana yang belum saya punya?” Melainkan: dari semua yang kini bisa saya serahkan, apa yang justru tidak akan pernah saya serahkan? Jawaban atas pertanyaan itulah, pada akhirnya, yang membuat karya kita tetap milik kita.
Versi Ringkas
6 Slide · Geser untuk menelusuriGunakan ← → di keyboard, atau geser di layar sentuh.