Esai · Demokrasi & Kebangsaan

Saat Dunia Terbelah, Pancasila Mengajarkan Cara Bersatu

Di tengah dunia yang retak oleh identitas dan kepentingan, lima sila yang kita warisi sejak 1945 menyimpan satu pelajaran tua yang masih kita perlukan: cara hidup bersama justru karena kita berbeda.

Buka linimasa mana pun hari ini, dan dunia tampak retak. Orang berdebat bukan untuk saling memahami, tetapi untuk saling mengalahkan. Negara menutup perbatasan. Identitas diadu dengan identitas, keyakinan dengan kebangsaan, “kita” dengan “mereka”. Di tengah kebisingan itu saya sering teringat pada lima sila yang kita warisi sejak 1945. Betapa tua jawaban itu, dan betapa ia masih kita butuhkan.

Pancasila tidak pernah menjanjikan bangsa tanpa beda. Ia menjanjikan sesuatu yang jauh lebih sukar: cara hidup bersama justru karena kita berbeda.

Nurcholish Madjid sudah lama membaca Indonesia bukan sebagai negara agama, bukan pula negara sekuler, melainkan negara demokrasi religius, ruang tempat keislaman dan keindonesiaan bertemu, dan Pancasila diterima sebagai titik temu di tengah masyarakat yang multietnik dan multiagama (Madjid, 2019). Di situ letak kecerdikannya. Pancasila tidak menyuruh siapa pun melepas keyakinan. Ia hanya meminta kita berdiri di tanah yang sama.

Gagasan itu bergema jauh di selatan, pada Nelson Mandela. Baginya, demokrasi yang sehat dibangun lewat rekonsiliasi, bukan pembalasan; filsafat Ubuntu mengajarkan bahwa “saya ada karena kita ada” (Beyond Intractability, n.d.). Persatuan, dalam arti ini, bukan kemenangan satu pihak atas yang lain, melainkan pengakuan bahwa martabat saya terikat pada martabatmu. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, berbicara dengan bahasa yang sama.

Lalu bagaimana persatuan itu dirawat agar tidak berubah menjadi paksaan? Mohammad Hatta menjawabnya lewat musyawarah-mufakat: keputusan rakyat menjadi aturan melalui perundingan, bukan kehendak mendadak satu kelompok (Sekretariat Negara Republik Indonesia, 2024). Sila keempat bukan sekadar prosedur. Ia adalah etika.

Yang banyak tidak boleh melindas yang sedikit, dan yang sedikit tidak boleh menyandera yang banyak.

Tentu, Pancasila bukan jimat. Dunia kuno pun pernah memuja demokrasi sambil menutup pintunya: Athena yang dibanggakan Pericles karena kuasa berada di tangan banyak orang ternyata tak memberi suara kepada perempuan dan budak (Thucydides, 2021). Setiap cita-cita persatuan selalu diuji oleh satu pertanyaan: siapa yang kita anggap layak ikut. Pancasila pun akan kosong bila hanya dihafal, bukan dijalani.

Maka tugas kita sederhana sekaligus berat. Setiap kali kita memilih mendengar sebelum menghakimi, setiap kali bilik suara menimbang suara seorang petani dan seorang profesor dengan timbangan yang persis sama, di situ Pancasila sedang bekerja. Dunia boleh terbelah. Kita punya lima kalimat yang, bila sungguh-sungguh kita percayai, mengajarkan cara untuk tetap satu.

Tonton Trailer

Trailer singkat esai ini — cocok dibagikan ke chat dan status.

Daftar Pustaka

  1. Beyond Intractability. (n.d.). Love and forgiveness in governance — Exemplars: Nelson Mandela. Diakses 30 Mei 2026, dari beyondintractability.org
  2. Madjid, N. (2019). Karya lengkap Nurcholish Madjid: Keislaman, keindonesiaan, dan kemodernan. Nurcholish Madjid Society. ibtimes.id
  3. Sekretariat Negara Republik Indonesia. (2024, 15 April). Demokrasi kerakyatan dalam perspektif Mohammad Hatta. setneg.go.id
  4. Thucydides. (2021). Analysis: Pericles’ funeral oration [Research starter]. EBSCO. ebsco.com

← Suara · © 2026 Yunike Puspita · yunikepuspita.com